06 April 2026 – Kenapa harga plastik naik menjadi pertanyaan yang makin sering terdengar di pasar, toko kemasan, hingga pelaku usaha kecil. Dalam beberapa pekan terakhir, lonjakan harga plastik disebut terkait gangguan pasokan bahan baku petrokimia, kenaikan harga polimer, serta biaya distribusi yang ikut terdorong.
Tekanan terbesar datang dari sisi hulu. Sejumlah laporan industri menunjukkan gejolak di Timur Tengah menghambat rantai pasok minyak, nafta, dan bahan baku turunan petrokimia yang dipakai untuk memproduksi plastik. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menjelaskan gangguan pasokan bahan baku menjadi penyebab utama kenaikan harga plastik dan kemasan dalam negeri.
Di level industri, tekanan itu sudah terasa pada harga polimer yang dilaporkan melonjak hingga 80% sampai 90% dalam periode tertentu. Kondisi tersebut membuat produsen kemasan, makanan-minuman, hingga pedagang pasar harus menanggung biaya lebih tinggi untuk membeli plastik pembungkus dan bahan kemasan.
Dampaknya kemudian menjalar ke lapangan. Seorang pedagang sayur di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, mengeluhkan harga plastik yang naik dari sekitar Rp 17 ribu menjadi Rp 23 ribu per kantong. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan juga menyatakan telah menerima banyak keluhan serupa terkait kenaikan harga kemasan plastik. Katadata
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Amdatara) Karyanto Wibowo menilai kenaikan harga bahan baku kemasan juga dipengaruhi lonjakan harga minyak global. Selama pasokan petrokimia belum pulih dan ongkos logistik masih tinggi, harga plastik berpotensi tetap menekan biaya usaha dari pabrik sampai warung kecil.
