Trinityordnance.com – Penyaluran cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 1,34 juta ton telah berhasil menjaga stabilitas harga beras di Indonesia, yang dikemukakan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas). Dalam keterangan pers di Jakarta, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwa intervensi ini penting untuk menekan inflasi beras di tengah tingginya kebutuhan masyarakat.
Selama periode Januari hingga Juni 2026, penyaluran ini dilakukan melalui Perum Bulog sebagai bagian dari program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP). Penjualan beras pada Januari dan Februari mencapai 221,05 ribu ton, sedangkan untuk periode Maret sampai Juni tercatat 406,5 ribu ton. Selain itu, program bantuan pangan juga telah menjangkau 33,14 juta keluarga penerima manfaat dengan total beras yang tersalurkan mencapai 662,86 ribu ton.
Amran menambahkan bahwa saat ini stok beras di Indonesia berada pada angka tertinggi sepanjang sejarah, yakni 5,1 juta ton. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan estimasi Food and Agriculture Organization (FAO), produksi beras di Indonesia bisa mencapai 38 juta ton pada tahun 2026. Jika target ini tercapai, surplus produksi beras dapat meningkat hingga 13 juta ton.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi beras pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,98 persen, lebih rendah dibandingkan 4,55 persen pada Mei 2026. Ini menunjukkan tekanan harga beras yang semakin terkendali, di mana inflasi beras secara bulanan tercatat 0,45 persen, menunjukkan bahwa pergerakan harga masih stabil.
Dengan demikian, langkah intervensi yang diambil pemerintah melalui penyaluran CBP dan hasil produksi dalam negeri menjadi kunci dalam menjaga kestabilan harga beras di pasar.
![Bapanas Intervensi 1,34 Juta Ton Beras Untuk Stabilkan Harga | trinityordnance [original_title]](https://trinityordnance.com/wp-content/uploads/2026/07/BC4DE21F-683E-4A41-AF51-1BB53E1C96A8.jpeg)