Site icon trinityordnance

Deflasi Menyerang Sumut karena Turunnya Harga Cabai Merah

[original_title]

Trinityordnance.com – Sumatra Utara diperkirakan akan mengalami deflasi sebesar 0,56% secara bulanan pada Januari 2026. Penurunan harga pangan, khususnya harga cabai merah yang turun hingga 45%, menjadi faktor utama yang berkontribusi meredam tekanan inflasi di awal tahun ini.

Ekonom dari Universitas Sumatra Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa peningkatan pasokan komoditas pangan setelah pemulihan dari bencana besar pada November lalu menyebabkan penurunan signifikan dalam harga. “Normalisasi distribusi menjadi kunci utama dalam pelemahan harga pangan,” ujarnya.

Dalam konteks ini, tidak hanya cabai merah yang berkontribusi pada deflasi. Cabai rawit mencatatkan penurunan harga sebesar 13%, sedangkan bawang merah turun sebesar 15,4%. Selain itu, harga minyak goreng curah dan gula pasir curah masing-masing melemah sebesar 18,2% dan 6,6%.

Situasi paling ekstrem terlihat di Gunungsitoli, di mana harga cabai merah kini hanya sebesar Rp33.750 per kilogram, jauh menurun dari harga tinggi yang sempat mencapai Rp300 ribu per kilogram pada Desember lalu. Meskipun harga daging dan emas menunjukkan kenaikan, pengaruh besar deflasi dari sektor hortikultura tetap mendominasi.

Prediksi menunjukkan bahwa potensi deflasi di Sumatra Utara mungkin akan berlanjut hingga Februari mendatang, tergantung pada realisasi deflasi selama bulan Januari. Keberlanjutan dari kondisi ini akan sangat bergantung pada dinamika harga pangan dalam beberapa pekan ke depan.

Exit mobile version