Trinityordnance.com – Penutupan sementara Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau berpotensi menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi industri penerbangan nasional. Asosiasi maskapai mengestimasi kerugian harian mencapai Rp19 miliar, yang disebabkan oleh pembatalan penerbangan, peningkatan konsumsi bahan bakar untuk rute yang harus dialihkan, dan biaya kompensasi untuk penumpang.
Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carrier Association (INACA) Bayu Sutanto menyampaikan bahwa dampak tersebut menghasilkan beban ganda bagi maskapai, yang harus melawan hilangnya pendapatan sekaligus membayar biaya operasional yang meningkat. Dalam simulasi harian, INACA mencatat potensi kerugian berkisar antara Rp10 miliar hingga Rp19 miliar per hari akibat pembatalan 30 hingga 50 penerbangan. Jika situasi ini berlanjut selama sepekan, total kerugian bisa mencapai antara Rp70 miliar hingga Rp130 miliar.
Sebaran abu vulkanik yang bergerak menuju timur laut berdampak langsung pada kepadatan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Radin Inten II di Lampung. Dampak ini sangat merugikan pendapatan dari penjualan kursi di tengah melonjaknya biaya operasional. Mengacu pada informasi dari Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, pembatalan penerbangan secara otomatis dilakukan jika konsentrasi abu vulkanik di jalur lepas landas maupun pendaratan melebihi 4.000 ppm. Hal ini menjadikan rute menuju Lampung sangat rentan karena jaraknya yang dekat dengan kawah aktif.
Penundaan penerbangan hingga 120 menit menjadi gejala umum di Bandara Soekarno-Hatta, sedangkan penerbangan domestik ke Sumatera selatan dan rute internasional menuju Australia mengalami pengalihan yang menambah waktu terbang sebesar 20-40 menit. Situasi ini menuntut perhatian serius dari pihak berwenang untuk menangani potensi krisis di sektor penerbangan.
![Erupsi Anak Krakatau, Industri Penerbangan Hadapi Kerugian Besar | trinityordnance [original_title]](https://trinityordnance.com/wp-content/uploads/2026/09/erupsi-anak-krakatau-industri-penerbangan-terancam-rugi-rp19-miliar-per-hari-stk.jpeg)