Trinityordnance.com – Dampak perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran telah menyebabkan lonjakan harga plastik di Indonesia, termasuk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Hal ini disebabkan oleh ketergantungan pada bahan baku minyak asal Timur Tengah untuk produksi plastik di dalam negeri.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Babel, Rommy S. Tamawiwy, menjelaskan bahwa jika konflik ini berlanjut hingga akhir April, berbagai sektor, terutama harga plastik dan Bahan Bakar Minyak (BBM), kemungkinan akan mengalami kenaikan yang signifikan. Rommy juga mencatat bahwa meskipun ada peningkatan harga plastik, dampaknya terhadap harga bahan pokok masih belum terasa secara luas.
Dalam pertemuan yang berlangsung pada Senin, 6 April, Rommy menyoroti bahwa kenaikan harga bahan pokok pasca-Lebaran lebih disebabkan oleh stok yang terbatas serta penurunan pasokan. Ia memperingatkan bahwa jika kondisi perang tidak mereda hingga bulan Mei, inflasi di Babel bisa meningkat, yang berpotensi mempengaruhi perekonomian daerah. Saat ini, inflasi di Babel tercatat sebesar 0,41 persen.
Bank Indonesia berkomitmen untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dengan menerapkan kebijakan yang dapat menstabilkan nilai tukar rupiah dan memastikan distribusi bahan pokok tetap terjaga di tengah krisis global. Namun, Rommy menegaskan, dampak perang ini tidak mempengaruhi ekspor timah dari Babel, karena jalur ekspor tidak melewati negara-negara di Timur Tengah.
Melalui acara Bangka Belitung Ekonomi dan Keuangan Syariah (BEKISAH), Rommy berharap pertumbuhan UMKM dan perekonomian Babel dapat terus terjaga dan berkembang di pasar global.
![Harga Plastik Melonjak, Inflasi Bangka Belitung Diprediksi Naik | trinityordnance [original_title]](https://trinityordnance.com/wp-content/uploads/2026/04/1775480523_b2c078b33f4ad0cd210b.jpg)