Trinityordnance.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan yang signifikan dalam perdagangan pada Rabu (21/01), diakibatkan oleh kombinasi sentimen domestik dan luar negeri. Menurut Muhammad Wafi, Kepala Riset PT Korea Investment And Sekuritas Indonesia (KISI), terdapat dampak negatif yang signifikan pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor Sumber Daya Alam (SDA) setelah pemerintah mencabut izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dari 28 perusahaan.
Wafi menjelaskan, ketidakpastian yang ditimbulkan akibat pencabutan izin tersebut membuat para investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan dolar AS. Hal ini menyebabkan terjadinya aliran modal keluar dari pasar saham Indonesia, yang dikenal dengan istilah capital outflow. Sentimen negatif ini juga dipengaruhi oleh ketegangan global, terutama yang melibatkan Presiden AS Donald Trump dan negara-negara NATO, yang menurut Wafi lebih berdampak pada psikologis pasar dan aliran modal.
Data perdagangan menunjukkan bahwa IHSG melemah 143,52 poin atau 1,57 persen, menutup di level 8.991,18. Total frekuensi perdagangan mencapai 3.493.813 transaksi dengan volume 52,25 miliar lembar saham senilai Rp28,28 triliun. Dari 801 saham yang diperdagangkan, 154 mengalami kenaikan, sementara 584 turun dan 63 tidak bergerak.
Wafi juga menyoroti bahwa meskipun IHSG tertekan, fundamental pasar masih solid berkat dominasi investor domestik dalam transaksi harian. Ia memproyeksikan IHSG akan berada di kisaran level 9.000 dalam waktu dekat, di mana tantangan psikologis ini diuji oleh sustensi di atas level tersebut.
![IHSG Tertekan Akibat Pencabutan Izin Usaha Saham SDA | trinityordnance [original_title]](https://trinityordnance.com/wp-content/uploads/2025/12/ihsg-pelantikan-prabowo-gibran-181024-aaa-2.jpg)