Site icon trinityordnance

Karawo Ikat Gorontalo: Melestarikan Budaya dan Mendorong Ekonomi

[original_title]

Trinityordnance.com – Karawo ikat, sebuah seni sulaman tangan yang berasal dari Gorontalo, kini semakin dikenal luas sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Dalam proses pembuatannya, serat kain diiris dan dicabut satu per satu untuk memberi ruang bagi benang, dengan setiap tusukan jarum yang memerlukan ketelitian. Menyelesaikan satu lubang pada kain kadang harus dilakukan beberapa kali sebelum dirampungkan sesuai pola yang diinginkan.

Erawati Bouta, seorang perajin yang telah belajar membuat karawo ikat sejak kecil, mulai menekuni keterampilan ini secara serius pada tahun 2019. Tujuannya tidak hanya untuk melestarikan tradisi, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat. Saat ini, Erawati mengembangkan usaha ini di rumahnya di Kabila, Kabupaten Bone Bolango, bersama empat perajin lainnya, sebagian besar berusia lanjut.

Proses pembuatan satu kain karawo ikat memerlukan waktu yang cukup lama. Jika dikerjakan secara penuh, satu kain dapat selesai dalam waktu sekitar sebulan, tetapi bisa memakan waktu hingga tiga bulan jika diselingi dengan pekerjaan lainnya. Tingginya tingkat ketelitian yang dibutuhkan serta waktu kerja yang lama membuat banyak orang enggan menjadi perajin. Erawati membayar sekitar Rp400.000 hingga Rp450.000 untuk pengerjaan satu lembar kain, jumlah yang belum sebanding dengan usaha yang dikeluarkan.

Pentingnya melestarikan budaya ini semakin diperkuat melalui berbagai acara, seperti “Mokarawo Kolosal” yang diadakan dalam Festival Seni dan Kerajinan Hulonthalo (HARFEST) X dan Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2026. Acara tersebut bertujuan untuk memperkenalkan dan meningkatkan apresiasi terhadap kerajinan karawo ikat, serta mendukung perajin lokal dalam mengembangkan keterampilan dan usaha mereka.

Exit mobile version