Trinityordnance.com – Upaya eliminasi kusta di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk keterlambatan deteksi dini dan stigma sosial yang menghambat kesejahteraan penderitanya. Hal ini disampaikan oleh The Habibie Center dalam program terbaru mereka yang bertujuan untuk meningkatkan deteksi awal dan mengurangi stigma di komunitas.
Program bertajuk “Developing an Alternative Model for Community-Based Early Detection and Combating Stigma of Leprosy in Indonesia” ini dirancang sebagai model intervensi berbasis bukti, yang selanjutnya diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan publik. Inisiatif ini dilakukan secara kolaboratif dengan Kementerian Kesehatan, serta melibatkan organisasi non-pemerintah seperti The Nippon Foundation dan Sasakawa Health Foundation.
Direktur Eksekutif The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori, mengungkapkan hasil awal riset di empat wilayah, yaitu Probolinggo, Tojo Una-Una, Mimika, dan Lembata. Ia mencatat fakta tingginya angka kusta di Indonesia, yang mengindikasikan dua aspek penting: medis dan sosial. Tantangan utama yang dihadapi adalah kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit ini. Banyak di antara mereka yang salah kaprah mengenai kusta, menganggapnya sebagai penyakit terkait ilmu hitam.
Stigma yang dialami oleh penderita, bahkan yang telah sembuh, juga menjadi masalah signifikan. Mereka sering kali mengalami diskriminasi dalam pekerjaan dan interaksi sosial. Kesulitan dalam mendapatkan akses ke obat dan dukungan dana juga turut memberikan dampak negatif bagi pasien.
Melalui program ini, diharapkan masyarakat lebih memahami penyakit kusta dan mengurangi stigma yang ada, sehingga penderitanya dapat hidup dengan lebih baik dalam komunitas mereka.
![Kusta Sembuh, Namun Penderita Masih Hadapi Stigma Negatif | trinityordnance [original_title]](https://trinityordnance.com/wp-content/uploads/2026/01/1768465382_6a93e4788e0cfabc94dd.jpg)