Trinityordnance.com – Dokter spesialis jantung dan kardiologi intervensi, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, menjelaskan bahwa anggapan bahwa penggunaan obat hipertensi jangka panjang dapat merusak ginjal tidaklah benar. Dalam sebuah konferensi pers di Jakarta pada peringatan “Hari Jantung Sedunia”, Prof. Yoga menekankan risiko kerusakan ginjal justru berasal dari hipertensi yang tidak terkontrol.
Prof. Yoga, yang juga merupakan Guru Besar Kardiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menyatakan bahwa banyak pasien merasa khawatir akan efek samping obat hipertensi sehingga mereka tidak teratur mengonsumsinya. “Nyatanya, mereka yang tidak rutin mengkonsumsi obatlah yang berisiko mengalami kerusakan ginjal,” ujarnya. Pengendalian tekanan darah diperlukan, mengingat hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala.
Data menunjukkan bahwa sekitar 32 persen dari populasi Indonesia mengalami hipertensi, namun hanya 27 persen yang terdiagnosis, dan hanya 4,2 persen pasien yang mencapai target pengobatan yang disarankan. Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena hipertensi merupakan faktor risiko utama bagi atrial fibrilasi (AF), yang juga dialami oleh sekitar 50 persen penderita AF di Indonesia.
Maka dari itu, Prof. Yoga mengingatkan pentingnya pemeriksaan rutin tekanan darah dan tidak menghentikan pengobatan hipertensi tanpa petunjuk dokter. Pengendalian hipertensi tidak hanya penting untuk menjaga kesehatan ginjal, tetapi juga untuk mencegah risiko komplikasi lainnya, termasuk stroke.
![Mitos Obat Hipertensi: Dokter Jelaskan Tidak Sebabkan Kerusakan Ginjal | trinityordnance [original_title]](https://trinityordnance.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG_20240419_232614.jpg)