Trinityordnance.com – Dalam konferensi yang berlangsung di Jakarta, Ketua Yayasan Vanita Naraya, Diah Pitaloka, menyerukan perlunya perubahan paradigma terhadap kepemimpinan perempuan, terutama dalam situasi krisis dan konflik. Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk memimpin di tengah tantangan yang sulit.
Diah Pitaloka mengungkapkan, kepemimpinan perempuan sering kali diabaikan dalam pandangan publik. “Ketika laki-laki berperan, mereka disebut sebagai pemimpin yang baik, sedangkan perempuan hanya dianggap memberikan kasih sayang,” ujarnya. Pernyataan ini disampaikan dalam acara terkait riset dan diskusi mengenai praktik agenda Women, Peace, and Security (WPS) di Indonesia.
Ia menyoroti adanya ketidaksetaraan dalam pengakuan peran perempuan dalam konflik sosial, bencana alam, dan dalam upaya perdamaian. Dalam pandangannya, penting untuk memberikan akses pengambilan keputusan yang setara bagi perempuan, bukan sekadar memberikan ruang kerja. Peneliti dari Vanita Naraya, Kunto Adi Wibowo, mendukung pernyataan tersebut dengan hasil survei yang menunjukkan perlunya transformasi kebijakan untuk mewujudkan kehadiran perempuan dalam struktur pengambilan keputusan di bidang keamanan.
Survei tersebut juga mencermati perubahan pandangan masyarakat tentang peran perempuan di berbagai konteks, termasuk dalam situasi bencana dan perdamaian. Menurut hasil survei, tantangan ke depan adalah menciptakan akses politik yang setara bagi perempuan, agar mereka dapat berperan lebih signifikan dalam struktur pengambilan keputusan keamanan nasional. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan mendorong partisipasi aktif perempuan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
![Perempuan Unggul di Situasi Krisis Menurut Vanita Naraya | trinityordnance [original_title]](https://trinityordnance.com/wp-content/uploads/2026/02/WhatsApp-Image-2026-02-26-at-00.24.06.jpeg)