Trinityordnance.com – PT PLN (Persero) memperkirakan pertumbuhan kebutuhan gas untuk pembangkit listrik nasional mencapai rata-rata 4,5 persen per tahun. Saat ini, kebutuhan gas nasional berada pada angka 1.748 billion British thermal unit per day (BBTUD), diperkirakan akan meningkat menjadi 2.490 BBTUD pada tahun 2034. Rakhmad Dewanto, Direktur Perencanaan Korporat PLN, mengungkapkan bahwa porsi LNG dalam pasokan gas PLN diperkirakan akan naik dari 57 persen menjadi 67 persen. Pernyataan ini disampaikan saat acara The 5th IndoPACIFIC LNG Summit 2026 di Badung, Bali.
Untuk memenuhi permintaan ini, PLN memperkuat pasokan dengan menjalin kontrak jangka panjang untuk gas dan LNG dengan beberapa perusahaan, termasuk West Natuna Exploration Limited dan Mubadala Energy. Kontrak yang dihasilkan mencakup pasokan gas hingga 300 BBTUD dan LNG lebih dari 49 juta ton, yang bertujuan untuk memberikan kepastian dalam pasokan energi selama jangka waktu panjang.
Selain itu, PLN juga sedang mempercepat pembangunan infrastruktur LNG, seperti pengembangan Floating Storage Regasification Unit (FSRU) di berbagai daerah serta peningkatan kapasitas penyimpanan LNG nasional. Pembangunan infrastruktur ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas distribusi LNG dan ketahanan rantai pasok energi di tengah tantangan geopolitik global.
Rakhmad menekankan bahwa gas memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan antara keamanan energi, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan. Dengan soliditas kontrak pasokan jangka panjang dan pembangunan infrastruktur yang lebih baik, PLN bertujuan untuk membangun sistem energi yang lebih tangguh dan berkelanjutan, serta mendukung pencapaian target net zero emissions Indonesia. Kebutuhan energi primer nasional diprediksi akan meningkat dua persen per tahun, sementara permintaan listrik diperkirakan tumbuh antara 4,6 hingga 5,4 persen per tahun.