Transisi Pengendali Makkah dan Madinah dari Keturunan Nabi ke Raja Saudi

[original_title]

Trinityordnance.com – Konflik baru antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman menarik perhatian dunia, terutama setelah serangan drone yang dituduhkan menuju Makkah. Sejarah mencatat bahwa kendali atas kota suci ini dan Madinah pernah berada di tangan keturunan Nabi Muhammad SAW, sebelum akhirnya beralih ke keluarga al-Saud yang kini memerintah Kerajaan Arab Saudi.

Kendali atas Makkah dan Madinah beralih pada tahun 1924 setelah kekalahan Kesultanan Utsmaniyah. Pada masa itu, Syarif Makkah, Hussein bin Ali, berada dalam posisi terdesak menghadapi serangan pasukan milisi Ikhwan yang dipimpin Abdulaziz Ibn Saud. Meskipun meminta bantuan Inggris, Hussein tidak mendapat dukungan yang diharapkan, sehingga pasukannya terpaksa mundur. Akhirnya, pada 1925, Ibn Saud berhasil merebut kedua kota suci tersebut dan membentuk negara yang kini dikenal sebagai Arab Saudi.

Sejak saat itu, posisi Raja Arab Saudi sebagai “Penjaga Dua Masjid Suci” menjadi gelar resmi, menegaskan peran penting kerajaan dalam melindungi dan mengelola lokasi-lokasi suci Islam. Gelar ini pertama kali diadopsi oleh Raja Fahd bin Abdulaziz pada tahun 1986.

Baru-baru ini, pada 15 September, pihak Arab Saudi mengumumkan bahwa pertahanan udaranya berhasil mencegat serangan drone yang diluncurkan oleh kelompok Houthi. Juru bicara Koalisi Arab Saudi menyatakan bahwa keamanan kedua masjid suci adalah prioritas utama.

Krisis ini menciptakan ketegangan baru di kawasan Timur Tengah, di mana Organisasi Kerja Sama Islam mengutuk serangan tersebut dan menegaskan komitmen untuk menjaga kesucian situs-situs Islam. Konflik ini kembali menyoroti perjalanan sejarah panjang yang telah membentuk kekuasaan di Makkah dan Madinah, serta hubungan kompleks antara berbagai kekuatan di kawasan itu.

Baca Juga  Cuaca Jakarta Selasa 21 Juli: Hujan Ringan di Jaksel dan Jaktim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *