Trinityordnance.com – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan pentingnya menjaga hubungan baik antara Malaysia dan Indonesia, terutama terkait isu perbatasan Malaysia-RI. Pernyataan tersebut disampaikan Anwar dalam sesi resmi di depan parlemen Malaysia di Kuala Lumpur pada Rabu lalu, menanggapi perdebatan yang berkembang di masyarakat tentang perbatasan Sabah dengan Kalimantan Utara.
Anwar menyebutkan perbedaan pendapat diperbolehkan, tetapi mengingatkan agar tidak melukai perasaan satu sama lain. “Kita semua harus berhati-hati dan bijak dalam menyampaikan pendapat, terutama di ruang publik,” ujarnya. Menurutnya, isu perbatasan adalah hal yang sensitif dan tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan politik tertentu yang dapat merugikan kedua negara.
Dalam penjelasannya, Anwar membantah laporan yang menyebut Malaysia telah menyerahkan 5.207 hektare tanah kepada Indonesia sebagai kompensasi untuk tiga desa yang masuk dalam wilayah Malaysia. Dia menegaskan, label “untung rugi” tidak berlaku dalam perjanjian perbatasan antara kedua negara. Semua keputusan didasarkan pada kesepakatan yang telah ditandatangani.
Anwar merinci bahwa penentuan batas perbatasan berlandaskan dua konvensi, satu pada tahun 1891, dan satu lagi pada 1915, yang menetapkan posisi geografis yang jelas. Dia menambahkan, sengketa di wilayah Sungai Sinapad dan Sungai Sesai harus merujuk pada konvensi-konvensi ini.
Sebagai penutup, Anwar menekankan bahwa ketiga desa di Nunukan tersebut memang termasuk ke dalam wilayah Sabah, Malaysia, dan menyatakan pentingnya menghormati kesepakatan yang ada demi stabilitas hubungan bilateral.