Trinityordnance.com – China mengemukakan lima pelajaran penting yang dapat dipelajari dari konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Dalam analisisnya, militer China mencatat bahaya pengkhianatan internal dan risiko besar yang timbul dari kepercayaan buta terhadap perdamaian. Analisis ini mencuat setelah serangan yang menargetkan berbagai lokasi strategis di Iran, termasuk fasilitas pemerintah, militer, dan nuklir.
Dalam sebuah publikasi melalui akun resmi mereka, China Military Bugle, di platform X, mereka menguraikan status terkini terkait serangan tersebut. Serangan ini mengakibatkan terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer tinggi. Situasi ini kabarnya telah memunculkan kemungkinan respons dari Iran terhadap Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Lima poin penting yang disampaikan oleh militer China mencakup:
-
Ancaman Internal: Pengkhianatan dari dalam dianggap sebagai ancaman paling serius, merujuk pada protes yang terjadi di Iran, yang diklaim didorong oleh intervensi asing.
-
Kepercayaan Buta Pada Perdamaian: Keyakinan yang berlebihan terhadap perdamaian disebut sebagai kesalahan terberat yang dapat terjadi dalam strategi pertahanan.
-
Realitas Kekuatan: Keseimbangan kekuatan dan superioritas tembakan sering menjadi penentu hasil konflik.
-
Ilusi Kemenangan: Terdapat peringatan akan ilusi kemenangan yang dihasilkan pasca intervensi AS di negara-negara lain seperti Irak, Suriah, dan Libya.
-
Kemandirian Sebagai Jaminan: Kemandirian dinyatakan sebagai satu-satunya cara yang dapat menjamin kedaulatan, terutama di tengah ketegangan global yang semakin meningkat.
Pernyataan ini juga beresonansi dengan pandangan Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan pentingnya kemandirian Indonesia dalam menghadapi tantangan dunia dan dinamika geopolitik yang berubah cepat.