Trinityordnance.com – PT Pertamina (Persero) mengumumkan langkah untuk mengoptimalkan efisiensi operasional di seluruh rantai bisnisnya sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak dunia yang telah melewati 100 dolar AS per barel. Situasi ini disebabkan oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang berdampak signifikan pada pasar energi global.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan bahwa perusahaan telah melakukan pemantauan intensif terhadap dinamika harga minyak dunia. Menurut informasi, harga minyak mentah jenis Brent mencapai 118 dolar AS per barel, tertinggi sejak Juni 2022. Harga ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata Januari 2026, di mana Brent tercatat sebesar 64 dolar AS dan US WTI di angka 57,87 dolar AS.
Meskipun terjadi fluktuasi harga, Pertamina memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) tetap aman. Baron menegaskan komitmen perusahaan untuk menjaga kelangsungan pasokan energi bagi masyarakat di tengah ketegangan yang terjadi.
Eskalasi konflik dimulai pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, yang telah mengakibatkan sejumlah korban jiwa, termasuk pemimpin tertinggi Iran dan ratusan warga sipil. Iran merespons dengan menyerang pangkalan AS dan fasilitas lainnya di wilayah tersebut, menyebabkan ketegangan semakin meningkat.
Pada 8 Maret, serangan udara terbaru dari AS dan Israel menargetkan fasilitas penyimpanan minyak di Iran, yang mengakibatkan kerusakan parah di sejumlah lokasi. Pertamina terus berkoordinasi dengan pemerintah terkait kebijakan energi nasional untuk menanggulangi dampak dari lonjakan harga minyak tersebut.