Trinityordnance.com – Menyusui secara eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi merupakan praktik yang sangat dianjurkan, namun tantangan sering kali dihadapi oleh ibu menyusui terkait dengan kekhawatiran tentang produksi ASI yang memadai. Survei Nasional Menyusui dan Pemberian Makan Anak tahun 2021/2022 di Singapura menunjukkan bahwa hanya sekitar 46 persen ibu yang berhasil menyusui secara eksklusif hingga usia tiga bulan, angka ini menurun menjadi 35 persen pada usia empat hingga lima bulan, dan hanya 3,3 persen pada usia enam bulan.
Nurhanesah A. Rahman, perawat senior dan konsultan laktasi, mengungkapkan bahwa meskipun secara fisiologis kekurangan ASI dapat terjadi, banyak ibu merasa tidak cukup menyusui, terutama dalam sepuluh hari pertama pascapersalinan. Kesalahpahaman ini sering membuat mereka beralih ke susu formula tambahan atau bahkan berhenti menyusui, padahal bayi mereka mungkin sudah mendapatkan cukup ASI dan tumbuh normal.
Konsultan laktasi senior, Chen Liqin, menambahkan bahwa menyusui delapan hingga 12 kali dalam 24 jam adalah hal yang normal bagi bayi baru lahir. Adanya pola menyusui yang sering, terutama pada sore dan malam hari, wajar disebabkan kadar prolaktin yang cenderung rendah pada waktu-waktu tersebut. Chen juga menjelaskan bahwa menyusui secara frekuensi tinggi membantu merangsang produksi ASI.
Tanda bayi menerima cukup ASI antara lain bayi tampak kenyang, suara menelan saat menyusui, dan stabilitas berat badan. Sebaliknya, tanda kekurangan ASI meliputi sedikitnya perubahan pada payudara setelah menyusui dan frekuensi popok basah yang tidak memadai. Situasi ini sebaiknya dievaluasi oleh konsultan laktasi atau tenaga kesehatan. Namun, kesejahteraan ibu juga sangat penting untuk produksi ASI, sehingga dukungan emosional dan persiapan menyusui sebelum melahirkan sangat dianjurkan.