Trinityordnance.com – Ukuran pasar baterai kendaraan listrik (EV) berbasis nikel mengalami peningkatan signifikan, sehingga menunjukkan potensi bisnis yang menjanjikan. Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif, mengungkapkan optimisme tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, pada hari Senin.
Aditya menjelaskan bahwa pasar baterai listrik saat ini terbagi antara baterai berbasis LFP (lithium iron phosphate) dan NMC (nikel mangan kobalt). Meskipun beberapa analis memproyeksikan bahwa pangsa pasar untuk baterai EV berbasis nikel tertekan oleh keberadaan baterai berbasis litium, permintaan terhadap katoda NMC justru mengalami lonjakan signifikan.
Ia juga menyebutkan bahwa untuk pengembangan teknologi masa depan, baterai jenis sodium ion battery menjadi alternatif menarik, di mana litiumnya berpotensi digantikan oleh natrium dengan tujuan mengurangi biaya. Aditya menegaskan bahwa meskipun bergerak ke arah teknologi baru, nikel tetap menjadi kandidat kuat dalam pengembangan baterai ini.
Selain itu, ia menyebutkan bakal hadirnya solid state battery yang menggunakan elektrolit padatan, di mana nikel diharapkan masih berperan penting. Pernyataan ini muncul sebagai jawaban atas pertanyaan dari Komisi XII mengenai daya saing baterai EV berbasis nikel di sektor yang semakin didominasi teknologi baterai berbasis litium.
Dengan perkembangan ini, Aditya optimis bahwa nikel Indonesia akan tetap memiliki posisi yang kuat di pasar global, menegaskan pentingnya inovasi dalam sektor energi dan sumber daya mineral.