Trinityordnance.com – Protes besar-besaran meletus di berbagai kota di Amerika Serikat sebagai respons terhadap penembakan Renee Nicole Good, seorang ibu tiga anak asal Minneapolis, oleh agen Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE). Insiden tragis yang terjadi pada Rabu lalu itu memicu kemarahan publik, dan Sabtu kemarin, ribuan demonstran turun ke jalan menuntut keadilan dan menarik ICE dari komunitas mereka.
Di Minneapolis, demonstrasi berhasil mengumpulkan ribuan orang di Powderhorn Park, sebuah lokasi bersejarah yang juga menjadi tempat protes terkait George Floyd pada 2020. Dalam cuaca yang dingin dan bersalju, massa melakukan longmarch menuju lokasi penembakan Good sambil meneriakkan slogan-slogan seperti “Justice for Renee Good”.
Merespons situasi ini, Sekretaris Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), Kristi Noem, mengumumkan penambahan ratusan personel dari Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) ke Minneapolis. Ia menyatakan, “Kami mengirimkan lebih banyak petugas hari ini dan besok agar individu ICE dan Patroli Perbatasan kami dapat bekerja dengan aman.”
Kritik juga datang dari Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, yang menyerukan penyelidikan independen terkait penembakan tersebut. Ia menyebut tindakan agen ICE sebagai “ceroboh” dan menuntut akuntabilitas.
Protes serupa terjadi di berbagai kota besar seperti Los Angeles, New York, dan Washington D.C. Koalisi “ICE Out for Good” melaporkan lebih dari 1.000 aksi yang direncanakan pada akhir pekan ini. Sentimen penolakan terhadap kebijakan ICE ini diperkuat oleh pernyataan Gubernur Minnesota, Tim Walz, yang mengecam kebijakan pemerintahan federal yang dianggap berbahaya.
Situasi di lapangan sempat memanas, termasuk insiden peluru merica yang ditembakkan ke arah demonstran di Minneapolis, serta penahanan 29 orang akibat kerusuhan. Masyarakat terus mendesak transparansi, terutama setelah anggota Kongres dari Partai Demokrat mengklaim dilarang mengunjungi fasilitas imigrasi di wilayah tersebut.