Trinityordnance.com – Untuk meningkatkan produksi pangan dan menjaga kualitas lingkungan, kondisi tanah yang sehat menjadi faktor krusial. Namun, di banyak sentra produksi pangan di Indonesia, fokus sering kali hanya tertuju pada masalah harga pupuk, cuaca, atau fluktuasi pasar, sementara kondisi tanah sering kali terabaikan.
Laporan dari Food and Agriculture Organization melalui Global Soil Partnership mengungkapkan bahwa lebih dari 30 persen lahan pertanian di daerah tropis, termasuk Indonesia, berada dalam kondisi masam hingga sangat masam. Kondisi ini terutama terdapat di lahan sawah intensif dan lahan kering di iklim basah, yang memiliki dampak signifikan terhadap produktivitas tanaman dan ekonomi petani.
Tanah masam menghasilkan dampak yang tidak langsung dengan menyebabkan tanaman tumbuh tidak optimal meski dosis pupuk anorganik ditingkatkan. Gejala yang terlihat seperti daun menguning dan hasil panen stagnan menjadi hal umum. Fenomena ini menyebabkan petani menjalani siklus pengeluaran tinggi tanpa hasil yang sebanding, menjerumuskan mereka ke dalam situasi ekonomi yang sulit.
Berdasarkan ilmu kesuburan tanah, faktor pH rendah menyebabkan kesulitan dalam penyerapan unsur hara esensial seperti fosfor. Hal ini menghambat pertumbuhan tanaman karena fosfor vital dalam proses pembentukan energi serta pertumbuhan akar. Selain itu, tanah masam juga berpotensi meningkatkan kelarutan unsur toksik, menambah beban bagi petani.
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang kondisi tanah, diharapkan petani dapat memperbaiki praktik pertanian mereka demi pencapaian hasil yang lebih optimal. Keberlanjutan pertanian di Indonesia sangat bergantung pada penanganan masalah tanah ini, sehingga meningkatkan ketahanan sosial ekonomi petani menjadi lebih mungkin.