Trinityordnance.com – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menargetkan sektor pangan dan manufaktur sebagai fokus utama untuk mengintegrasikan usaha kecil dan menengah (UKM) dalam rantai pasok perekonomian. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Aviliani, dalam acara Global & Domestic Economic Outlook 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Kamis.
Dalam kondisi ekonomi yang menantang, Aviliani menyatakan bahwa pelaku UKM sering dianggap sebagai tulang punggung ekonomi nasional, meski faktanya mereka menghadapi berbagai kesulitan. Meskipun pemerintah telah berupaya meningkatkan sisi penawaran melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), Aviliani menyoroti rendahnya permintaan yang mengimbangi suplai tersebut, yang berdampak pada meningkatnya kredit macet di kalangan UKM.
Aviliani menekankan pentingnya sektor swasta untuk berkolaborasi dengan UKM, mengingat banyak dari mereka berjuang untuk bertahan hidup dan kesulitan untuk mengembangkan usaha. Dengan melibatkan UKM dalam rantai pasok, diharapkan pendapatan usaha kecil meningkat dan peluang untuk pertumbuhan juga terbuka.
Dia menambahkan bahwa sektor pangan adalah area yang dapat dengan mudah dikembangkan, sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mencapai kemandirian pangan. Kerja sama dengan petani dan peternak dipandang esensial untuk mencapai tujuan ini.
Tidak hanya pangan, sektor manufaktur pun dianggap berpotensi dalam melibatkan UKM. Mendorong partisipasi mereka dalam industri ini diharapkan mampu memperkuat posisi UKM dalam ekonomi.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan pentingnya ketahanan pangan di tengah ketidakstabilan global, dengan menetapkan sektor pertanian dan pangan sebagai prioritas nasional. Aktivitas manufaktur Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan positif, dengan indeks Manufaktur mencapai 51,2 pada Desember 2025, didorong oleh permintaan domestik yang kuat dan peningkatan kesempatan kerja.