Trinityordnance.com – Nilai tukar rupiah mengalami penguatan pada penutupan perdagangan Jumat sore, dengan kenaikan sebesar 129 poin atau 0,71 persen, menjadi Rp17.860 per dolar AS dibandingkan sebelumnya Rp17.989 per dolar AS. Penguatan ini dipandang sebagai hasil dari berbagai faktor positif dalam perekonomian domestik yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa keselarasan antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah serta kebijakan peningkatan suku bunga acuan turut berkontribusi pada penguatan nilai rupiah. Data Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) bulan Mei yang menunjukkan defisit terkendali dan pendapatan negara yang meningkat juga menjadi pendorong. “Disiplin fiskal yang baik sangat penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar hingga akhir tahun, terutama menjelang peningkatan belanja pemerintah pada semester kedua,” tambahnya.
Meskipun rupiah menunjukkan tren positif, terdapat beberapa tantangan. Penguatan dollar AS, kehati-hatian pelaku pasar menjelang akhir pekan, serta ketidakpastian global masih menjadi faktor penghambat. Josua menekankan bahwa berita dari Timur Tengah meningkatkan permintaan terhadap dollar AS sebagai aset aman, yang bisa memberikan tekanan pada rupiah.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga mencatat penguatan menjadi Rp17.921 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.981 per dolar AS. Dengan berbagai faktor yang mempengaruhi, kondisi nilai tukar rupiah tetap memerlukan pemantauan ketat untuk memastikan keberlanjutan penguatan ini di masa mendatang.