Trinityordnance.com – Konsolidasi bank-bank kecil dinilai penting untuk menurunkan suku bunga kredit di Indonesia. Ekonom Universitas Paramadina Jakarta, Wijayanto Samirin, menyatakan bahwa langkah ini dapat membantu menciptakan industri perbankan yang lebih efisien. Menurutnya, tingginya suku bunga kredit di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk struktur industri perbankan, suku bunga acuan, serta risiko yang dihadapi oleh bank.
Pernyataan ini disampaikan Wijayanto setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengajak Special Mission Vehicle (SMV) untuk meminta tingkat bunga simpanan perbankan maksimal 80 persen dari BI Rate. Tujuan langkah ini adalah untuk memberikan akses pendanaan yang lebih murah bagi perbankan, sehingga diharapkan dapat menyalurkan kredit dengan suku bunga yang lebih rendah kepada masyarakat.
Namun, Wijayanto mengingatkan bahwa tingginya suku bunga kredit juga dipicu faktor struktural, di mana industri perbankan cenderung oligopolistik. Empat bank besar saat ini menguasai hampir 50 persen aset total dan sekitar 65 persen pendapatan bersih. Hal ini berdampak pada efisiensi industri dan net interest margin (NIM) yang lebih tinggi dibandingkan negara lain.
Konsolidasi bank kecil pun dianggap cara untuk meningkatkan skala usaha dan efisiensi, sehingga dapat memperbaiki kesehatan industri perbankan. Ia juga menekankan bahwa kebijakan penurunan suku bunga kredit harus memperhatikan keseimbangan antara bank besar dan kecil agar tidak mengancam keberlanjutan operasional bank yang lebih kecil.
Dalam penjelasannya, Wijayanto juga merincikan bahwa tingkat BI Rate yang tinggi, serta ketidakpastian hukum, turut berkontribusi pada tingginya suku bunga kredit. Dengan demikian, pengaturan yang hati-hati diperlukan untuk menciptakan stabilitas dalam sistem perbankan Indonesia.