Trinityordnance.com – Penemuan fosil terbaru mengungkap fakta menarik terkait keberlangsungan hidup dinosaurus herbivora saat diserang oleh Tyrannosaurus rex (T-Rex), predator puncak yang dikenal sangat menakutkan di era dinosaurus. Para paleontolog menemukan bahwa tidak semua serangan T-Rex berakhir fatal bagi mangsanya.
Menurut laporan dari National Geographic, fosil Edmontosaurus, seekor dinosaurus herbivora berparuh bebek, menunjukkan tanda-tanda gigitan yang cocok dengan pola gigi T-Rex. Lebih mengejutkannya, ditemukan pula pertumbuhan tulang baru di area luka, menandakan Edmontosaurus tidak langsung tewas, melainkan berhasil melarikan diri dan sembuh setelah serangan tersebut.
Temuan ini menantang persepsi bahwa T-Rex selalu sukses dalam berburu. Keberhasilan melarikan diri ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kecepatan lari mangsa dan ukuran tubuhnya yang besar. Di akhir Zaman Kapur, dimensi fisik dan struktur tubuh yang tepat memainkan peran penting dalam kelangsungan hidup herbivora.
Selanjutnya, penelitian tentang “cakar ketiga” T-Rex, yang memiliki lengan kecil dengan dua cakar fungsional, menunjukkan sifat ofensif tetapi juga kelemahan. Meski T-Rex memiliki kekuatan mengigit yang luar biasa, jangkauan lengan yang terbatas memberi kesempatan pada herbivora besar seperti Triceratops dan Ankylosaurus untuk melawan. Tanduk dan ekor tajam mereka berfungsi sebagai senjata, mampu melukai predator.
Paleontolog menegaskan bahwa tidak ada predator besar yang memiliki tingkat keberhasilan berburu 100 persen, termasuk T-Rex. Medan berburu, stamina mangsa, serta kesalahan dalam strategi sering menjadi penyebab kegagalan berburu. Penemuan ini memberikan wawasan baru tentang dinamika predator dan mangsa di era purba.