Trinityordnance.com – Serangan udara Israel di Gaza pada Sabtu, 20 Juni 2026, mengakibatkan enam orang tewas, termasuk jurnalis Al Jazeera, Ahmed Wishah. Insiden ini terjadi di tengah ketegangan yang terus melanda kawasan tersebut, meskipun gencatan senjata diberlakukan antara Israel dan Hamas pada bulan Oktober lalu.
Militer Israel mengakui terjadinya serangan tersebut dan menyatakan bahwa korban jiwa termasuk di antara kelompok milisi yang mereka tuduh berafiliasi dengan Hamas. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan, serangan ini menjadi salah satu dari serangkaian serangan udara yang terus berlanjut, meski telah melampaui satu tahun sejak gencatan senjata, dengan total lebih dari 1.000 warga Palestina tercatat sebagai korban.
Serangan pertama pada hari tersebut terjadi sekitar pukul 02.00 pagi, menghantam sebuah apartemen di Kota Gaza. Seorang jurnalis dari Associated Press melaporkan melihat puing-puing dan darah di lokasi kejadian. Di antara korban adalah dua saudara perempuan, Zina (4) dan Lana (14), yang jenazahnya dibawa ke Rumah Sakit Shifa. Anggota keluarga terlihat berduka di sekitar mereka, sementara sepupu korban, Mohammad Safadi, memberikan keterangan bahwa mereka tidak memiliki peringatan sebelum serangan terjadi.
Kejadian ini menggambarkan esensi konflik yang berkepanjangan di wilayah tersebut, di mana serangan udara berulang kali terjadi, menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan. Dengan meningkatnya angka korban jiwa, situasi di Gaza kembali mendapatkan perhatian publik dan organisasi internasional, yang menyerukan penekanan untuk menghentikan kekerasan dan mencari solusi damai.