Trinityordnance.com – Banjir yang merendam lebih dari seratus RT di DKI Jakarta sejak Kamis (22/1) disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah penyempitan aliran sungai. Gubernur Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan hal ini setelah melakukan pantauan di lapangan, mengetahui bahwa bottleneck di sungai menjadi kendala dalam aliran air hujan.
Dalam tinjauannya pada Jumat (23/1), Pramono menekankan perlunya normalisasi Kali Cakung Lama guna mengatasi masalah tersebut. Ia menyatakan, “Salah satu persoalan adalah penyempitan di beberapa sungai yang harus dinormalisasi. Saya sudah menyetujui untuk dilakukan normalisasi di Sungai Cakung Lama.”
Pramono juga mencatat bahwa fenomena cuaca ekstrem berkontribusi terhadap banjir yang terjadi. Ia mencatat bahwa curah hujan pada Januari 2026 ini melebihi rata-rata, dengan puncak pada 18 Januari mencapai 267 mm. Menurutnya, intensitas hujan yang tinggi secara berturut-turut sangat jarang terjadi di Jakarta, yang mengakibatkan air tidak dapat mengalir dengan baik.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Provinsi Jakarta memutuskan untuk memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga 27 Januari 2026. Tujuan dari operasi ini adalah untuk mengurangi curah hujan sebelum mencapai daratan, dengan dukungan anggaran yang cukup untuk melakukan tiga penerbangan penyemaian awan setiap hari.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta mencatat bahwa hingga pukul 11.00 WIB, 132 RT dan 16 ruas jalan masih terendam air, dengan ketinggian mencapai lebih dari satu meter di beberapa lokasi. Pramono menegaskan bahwa mereka juga sedang merumuskan prosedur operasional untuk mempercepat proses evakuasi dan pengeringan banjir di daerah terdampak.