Trinityordnance.com – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi baru-baru ini disebabkan oleh escalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) serta Israel. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Irvan Susandy menjelaskan bahwa kekhawatiran terhadap gangguan rantai pasok global, terutama di sektor energi, menjadi pendorong utama penurunan ini. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dianggap dapat memicu krisis energi yang berdampak langsung pada pasar saham.
Dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/3), Irvan menegaskan bahwa koreksi yang terjadi pada IHSG sejalan dengan tren negatif di bursa saham Asia. Bursa Korea Selatan bahkan mengalami penutupan perdagangan sementara karena penurunan lebih dari 8 persen. “Pergerakan IHSG sejalan dengan pergerakan indeks regional lain yang juga turun tajam,” ujar Irvan, merujuk pada indeks-indeks utama di Asia yang mengalami penurunan drastis, seperti Kospi, SET, Nikkei, dan lainnya.
Data perdagangan menunjukkan bahwa pada pukul 11.11 WIB, IHSG tercatat melemah 251,47 poin atau 3,17 persen, berada di posisi 7.688,29. Dalam sesi perdagangan tersebut, frekuensi transaksi mencapai 1.843.291 kali dengan total nilai perdagangan sebesar Rp15,89 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, 66 saham mengalami kenaikan, sementara 703 saham turun dan 43 saham stagnan.
Situasi ini menyoroti dampak global dari ketegangan politik dan menunjukkan bagaimana faktor eksternal dapat memengaruhi pasar saham dalam negeri. Analisis lebih lanjut dibutuhkan untuk memahami bagaimana perkembangan ini akan mempengaruhi pasar ke depan.