Trinityordnance.com – Mantan Jenderal Mark Kimmitt, yang pernah menjabat sebagai komandan CENTCOM Amerika Serikat, memperingatkan bahwa terdapat risiko tinggi “kesalahan perhitungan” oleh militer Iran, yang dapat memicu kerusuhan baru dan memperburuk kondisi di kawasan. Menurut Kimmitt, militer AS memiliki struktur komando yang terpusat, berbeda dengan Garda Revolusi Iran yang memberikan ruang gerak lebih kepada perwira tingkat rendah. Situasi ini berpotensi berbahaya ketika, misalnya, seorang komandan dari 15 kapal cepat Iran memutuskan untuk bertindak sepihak terhadap kapal AS, yang bisa berujung pada korban jiwa dan meningkatkan intensitas konflik.
Kimmitt menyampaikan pandangannya saat berbicara kepada Al Jazeera, mencermati bagaimana tindakan impulsif dari perwira rendah dapat memiliki konsekuensi yang luas. Pada saat yang sama, Mohammed Elmasry, seorang profesor di Institut Studi Pascasarjana Doha, menekankan bahwa AS tengah berupaya untuk mendesak Iran agar menerima serangkaian tuntutan, termasuk permintaan untuk membongkar fasilitas nuklir dan menghentikan program rudal balistiknya. Menurut Elmasry, beberapa tuntutan ini dianggap Iran sebagai pelanggaran terhadap garis merah nasional mereka.
Elmasry juga menekankan pentingnya dialog langsung antara kedua pihak untuk mencapai pemahaman yang lebih baik, mengingat telah ada negosiasi yang memakan waktu lama untuk kesepakatan sebelumnya, seperti JCPOA (Rencana Aksi Komprehensif Bersama). Diskusi yang berlangsung di Islamabad, meski singkat, menunjukkan perlunya komunikasi yang lebih terbuka antara AS dan Iran untuk meredakan ketegangan dan mencari solusi damai bagi konflik yang berkepanjangan ini.