Trinityordnance.com – Strategi sembunyi Mojtaba Khamenei dinilai menjadi kunci kemenangan Iran dalam menghadapi berbagai tantangan. Lebih dari enam minggu setelah diumumkan sebagai pemimpin tertinggi baru negara itu, setelah kematian ayahnya, Mojtaba Khamenei belum terlihat di depan publik. Pendekatan ini membuat banyak pihak berasumsi bahwa ketidakhadirannya mungkin berkaitan dengan kondisi kesehatan atau keterbatasan dalam menjalankan fungsi kepemimpinan.
Di tengah konflik yang mengancam eksistensi rezim yang telah berkuasa selama hampir 50 tahun, Mojtaba Khamenei memilih untuk tidak tampil. Sebagian besar pernyataannya disampaikan melalui televisi nasional atau platform media sosial, termasuk video yang dihasilkan artificial intelligence (AI). Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa ia tidak sepenuhnya mampu menjalankan tugas atau mungkin berada di luar negeri.
Sumber-sumber yang dekat dengan situasi menyebutkan bahwa ia mengalami cedera setelah gelombang serangan yang juga menewaskan sang ayah dan sejumlah komandan militer terkemuka. Meskipun demikian, Khamenei diketahui masih terlibat dalam pertemuan dengan pejabat senior melalui konferensi audio untuk memberikan persetujuan atas keputusan penting.
Ali Vaez dari International Crisis Group menegaskan bahwa meskipun kapasitas Mojtaba untuk mengambil keputusan secara mendalam dipertanyakan, sistem kepemimpinan saat ini mengandalkan kehadiran namanya untuk memberikan legitimasi pada berbagai keputusan yang diambil. Dengan demikian, ketidakhadirannya berfungsi sebagai tameng dari kritik internal terhadap proses negosiasi dan keputusan yang diambil.
Pernyataan ini sangat kontras dengan gaya kepemimpinan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang terkenal aktif dan terbuka dalam pengambilan keputusan. Kini, dengan situasi yang tidak menentu, banyak yang bertanya-tanya mengenai siapa yang sebenarnya memegang kendali dalam proses kepemimpinan Iran saat ini.