Trinityordnance.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat drastis setelah pertemuan terakhir yang digelar di Jenewa gagal mencapai kesepakatan. Pertemuan tersebut berlangsung pada Kamis lalu, di mana delegasi dari pemerintahan Presiden Donald Trump bertemu dengan pihak Iran untuk membahas program nuklir Teheran.
Pada pertemuan itu, AS menuntut agar Iran tidak memperkaya uranium selama sepuluh tahun ke depan. Namun, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menolak tuntutan tersebut dengan menegaskan hak Iran untuk memperkaya uranium. Tanggapan Araghchi tersebut direspon oleh utusan AS, Steve Witkoff, yang juga menekankan hak Amerika untuk menghentikan langkah tersebut.
Situasi dalam pertemuan sempat memanas, dengan Araghchi berteriak dalam diskusi tersebut. Setelah menerima laporan tentang pertemuan tersebut, Trump dilaporkan merasa bingung dengan hasilnya. Namun, beberapa hari setelahnya, pada Sabtu dini hari, Trump mengumumkan dimulainya operasi militer terhadap Iran melalui video di media sosial, mengingatkan kepada publik tentang keputusan serupa yang diambil oleh Presiden George W. Bush lebih dari dua dekade lalu.
Trump menjelaskan alasan serangan tersebut, mencatat bahwa Iran terus melakukan penelitian nuklir. Operasi yang dinamakan Operasi Epic Fury ini dimulai pada pukul 01.15 waktu setempat, melibatkan pesawat pembom B-2 dan jet tempur yang menyerang target-target militer Iran.
Eskalasi ini juga memicu serangan balasan dari Iran yang menyebabkan jatuhnya korban di pihak militer AS. Trump menyatakan bahwa konflik ini kemungkinan belum akan berakhir dalam waktu dekat, menggambarkan situasi yang sedang dihadapi sebagai sangat serius. Banyak analis mengindikasikan bahwa perkembangan lebih lanjut akan sangat bergantung pada situasi di lapangan dan dinamika politik di Iran.