Trinityordnance.com – Kelompok Houthi Yaman mengobarkan perang melawan Arab Saudi dengan tujuan mendirikan negara Syiah. Serangan terbaru yang dilakukan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu lalu menewaskan 13 orang dan melukai 309 lainnya, mencatatkan serangan paling mematikan di Saudi dalam lebih dari satu dekade. Pada Minggu, serangan susulan juga mengakibatkan satu korban jiwa.
Koalisi pimpinan Saudi langsung menyalahkan kelompok Houthi, menyebut tindakan tersebut sebagai kejahatan perang. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim bahwa pihaknya telah meluncurkan serangan terhadap bandara dalam tiga tahap sejak Jumat malam, dan memperingatkan bahwa bandara di wilayah lain kecuali Mekkah dan Madinah tidak aman.
Insiden ini terjadi di tengah peningkatan ketegangan yang telah meningkat sejak runtuhnya gencatan senjata yang didukung PBB pada bulan Juli, setelah serangan udara Arab Saudi di Bandara Sanaa. Pasalnya, Houthi kemudian mengumumkan blokade maritim terhadap kerajaan Saudi.
Pada awal Oktober, pasukan pemerintah yang didukung Saudi meluncurkan serangan balasan, sedangkan utusan khusus PBB memperingatkan kembalinya perang berskala penuh di Yaman. Pertempuran sengit juga terjadi di sekitar kota Taiz, yang memiliki posisi strategis, menyebabkan sekitar 130.000 orang terpaksa mengungsi.
Ketegangan ini menunjukkan kompleksitas konflik yang sudah berlangsung lama di Yaman, di mana berbagai kepentingan politik dan agama saling berinteraksi. Dengan situasi yang terus memburuk, perhatian internasional kembali tertuju pada potensi dampak kemanusiaan dari meningkatnya kekerasan ini.