Infrastruktur Motor Listrik Harus Sesuaikan Pola Mobilitas

[original_title]

Trinityordnance.com – Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) mengingatkan pentingnya pembangunan infrastruktur pendukung sepeda motor listrik yang lebih holistik. Mereka menekankan bahwa fokus hanya pada penambahan jumlah Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) tidaklah cukup. Infrastruktur ini perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan pola mobilitas penggunanya.

Riniwaty Sinaga, PR & Event Executive Aismoli, menjelaskan bahwa infrastruktur yang diperlukan bisa bervariasi tergantung pada jenis kendaraan, pola perjalanan, dan lokasi. Ia mengungkapkan, “Kebutuhan ojek online, pekerja kantoran, dan sektor pariwisata memiliki perbedaan signifikan yang memengaruhi jenis infrastruktur yang dibutuhkan.”

Saat ini, anggota Aismoli memasarkan sepeda motor listrik dengan dua pendekatan, yaitu sistem penukaran baterai dan baterai terintegrasi. Merek yang mengusung sistem penukaran memiliki strategi khusus untuk jumlah dan lokasi kabinet penukaran, sedangkan yang menggunakan baterai terintegrasi menawarkan fasilitas pengisian daya melalui kerjasama dengan penyedia infrastruktur.

Riniwaty juga mencatat bahwa sebagian besar pengguna sepeda motor listrik saat ini lebih memilih pengisian daya di rumah atau kantor. Oleh karena itu, pengembangan ekosistem ke depan harus mengombinasikan berbagai jenis infrastruktur, termasuk communal charging hub, yang berguna bagi pengguna dengan keterbatasan kapasitas listrik di tempat tinggal mereka.

Hingga Maret 2026, terdapat 4.892 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan 1.907 unit SPBKLU di seluruh Indonesia. Ini menunjukkan perkembangan positif dalam mendukung ekosistem sepeda motor listrik nasional, jika disertai perencanaan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan pengguna di berbagai wilayah.

Baca Juga  KKP Perkirakan Panen Budi Daya Lobster di Batam September Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *