Rupiah Tertekan oleh Prediksi Suku Bunga Tinggi Fed Berlanjut

[original_title]

Trinityordnance.com – Nilai tukar rupiah mengalami penurunan signifikan pada penutupan perdagangan hari ini, melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS, dibandingkan Rp17.414 pada penutupan sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh ekspektasi untuk suku bunga tinggi yang akan bertahan lebih lama dari Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Tiffani Safinia dari Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) menjelaskan bahwa penguatan dolar AS disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dunia. Keadaan ini memberikan tekanan berkelanjutan pada nilai rupiah.

Proyeksi pasar menunjukkan bahwa Fed Fund Rate (FFR) tidak akan turun sepanjang tahun ini, tidak kurang dari 3,75 persen, dengan probabilitas dominasi di kisaran 350-375 basis poin hingga akhir tahun. Para investor juga masih menunggu petunjuk mengenai arah inflasi AS yang dapat mempengaruhi kebijakan moneter The Fed.

Di sisi domestik, sentimen terkait aliran modal asing dan persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia turut mempengaruhi pelemahan nilai tukar. Masalah yang dikemukakan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai transparansi pasar modal Indonesia membuat investor global semakin berhati-hati.

Menyusul pelemahan ini, dampak terhadap ekonomi Indonesia perlu dicermati, terutama terkait inflasi impor. Biaya impor yang meningkat dapat mendorong harga domestik naik secara bertahap. Bank Indonesia berkomitmen untuk melakukan intervensi agar stabilitas rupiah tetap terjaga, sementara volatilitas nilai tukar diperkirakan akan tetap tinggi dalam waktu dekat.

Baca Juga  Tiga Tersangka Baru Ditetapkan dalam Kasus Tambang Ilegal PT AKT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *