Trinityordnance.com – Puan Maharani, Ketua DPR RI, mengingatkan pentingnya persiapan menghadapi dampak bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau. Ini menyusul proyeksi musim kemarau yang lebih kering pada tahun 2026. Dalam pernyataannya, Puan menegaskan perlunya langkah-langkah strategis untuk melindungi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
Puan merekomendasikan agar pemerintah menyiapkan pos perlindungan udara bersih di lokasi-lokasi dengan populasi tinggi, seperti sekolah dan tempat layanan kesehatan, guna memfilter partikulat yang berbahaya. Ia juga mengharapkan adanya protokol otomatis yang dapat diterapkan ketika terjadi polusi udara, agar rekomendasi aktivitas harian bagi warga dapat diberikan secara cepat saat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) meningkat.
Menyadur data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Puan mencatat total luasan karhutla di Riau pada periode 1 Januari hingga 1 Juni 2026 telah mencapai 15.031,58 hektare. Sebagai respons, sebelas daerah di Riau telah menetapkan status siaga darurat karhutla. Dalam upaya mitigasi, Puan juga menekankan perlunya meningkatkan kemampuan infrastruktur pemadaman kebakaran, seperti armada water bombing.
Lebih lanjut, Puan juga meminta pemerintah memastikan bahwa biaya pengobatan yang timbul akibat karhutla tidak dibebankan pada masyarakat. Selain itu, fasilitas kesehatan di daerah terdampak harus dimaksimalkan, dengan persediaan oksigen dan obat-obatan yang memadai. Dia menekankan pentingnya koordinasi cepat dalam distribusi layanan dasar serta pelaporan kebutuhan kesehatan oleh warga.
Keseluruhan langkah ini diharapkan dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh karhutla dan menjaga kesejahteraan masyarakat setempat.