Bahlil Pertimbangkan Relaksasi Kuota Produksi Batu Bara dan Nikel

[original_title]

Trinityordnance.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah mengisyaratkan kemungkinan relaksasi kuota produksi batu bara dan nikel. Hal ini dipicu oleh kenaikan harga komoditas yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik, terutama konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Dalam pernyataannya, Bahlil menegaskan bahwa jika harga stabil, relaksasi terhadap perencanaan produksi akan dipertimbangkan, tetapi harus tetap terukur.

Kementerian ESDM sebelumnya telah menetapkan target produksi batu bara untuk tahun 2026 sebanyak 600 juta ton, yang merupakan pengurangan signifikan dari realisasi tahun 2025 sebesar 790 juta ton. Sementara itu, untuk nikel, produksi dibatasi menjadi antara 250 hingga 260 juta ton, berkurang dari Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 yang sebesar 379 juta ton. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar internasional.

Harga batu bara sempat melonjak menyusul pecahnya konflik, dari bawah 120 dolar AS per ton menjadi lebih dari 130 dolar AS per ton dalam sepekan awal Maret 2026. Kenaikan ini disebabkan oleh gangguan pada distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) secara global.

Sebagai bagian dari strategi ekonomi, Presiden RI Prabowo Subianto telah meminta pengoptimalan penerimaan negara dari komoditas batu bara guna menangkap “windfall profit” untuk memperkuat anggaran di tengah situasi geopolitik yang tidak stabil. Pemerintah berencana merevisi RKAB batu bara tahun 2026 untuk menyesuaikan target produksi dan pendapatan sesuai dengan kondisi terbaru.

Baca Juga  John Robertson, Pahlawan Dua Piala Eropa Nottingham, Wafat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *