Trinityordnance.com – Pertemuan tidak langsung antara pejabat Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam putaran ketiga digelar di Jenewa, Kamis (26/2), bertujuan untuk meredakan ketegangan yang meningkat dan mencegah potensi konflik yang lebih besar. Diskusi ini berlangsung di tengah ancaman Presiden Donald Trump mengenai kemungkinan serangan militer jika kesepakatan nuklir tidak tercapai.
Teuku Rezasyah, seorang pakar hubungan internasional, menyatakan bahwa putaran negosiasi kali ini tidak menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan putaran sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh posisi kedua negara yang saling bertolak belakang dan tetap pada sikap keras masing-masing. AS terfokus pada penutupan seluruh fasilitas nuklir Iran serta pembekuan program peluru kendali balistik, sementara Iran merasa bahwa tekanan tersebut merupakan pelecehan dan tantangan terhadap kedaulatan mereka.
Dalam konteks ancaman Trump akan serangan militer, Rezasyah menilai pernyataan tersebut lebih merupakan tekanan politik daripada sinyal untuk tindakan langsung. Ia berpendapat bahwa strategi ini justru menguntungkan Iran, yang bisa mempersiapkan strategi balasan. Target balasan Iran disebutkan mencakup kota-kota di Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Rezasyah juga menjelaskan skenario geopolitik yang mungkin terjadi jika perundingan gagal mencapai kesepakatan. Beberapa kemungkinan termasuk kepulangan pekerja asing dari Timur Tengah, eksodus penduduk Israel, rotasi prajurit di pangkalan militer AS, serta peningkatan pembelian senjata dari Tiongkok dan Rusia.
Diana yang dihadapi oleh kedua negara menunjukkan bahwa kegagalan diplomasi tidak hanya berdampak pada Washington dan Teheran, tetapi juga berpotensi memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.