Trinityordnance.com – Stephanie Octorina Saing, perempuan berusia 35 tahun, telah menjadikan kecintaannya terhadap kain tenun tradisional Indonesia sebagai landasan untuk memberdayakan para perajin tenun di Nusa Tenggara Timur (NTT). Memulai perjalanannya sebagai konsultan di bidang pertambangan, Stephanie beralih fokus pada pengembangan usaha ketika menyadari banyak penenun yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Melalui Galeri Tinung Rambu, yang didirikannya, ia berupaya memperkenalkan kekayaan tenun Nusantara ke pasar yang lebih luas. Dengan dukungan permodalan dari PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), Stephanie mengembangkan kapasitas produksi dan memperluas jangkauan pemasaran. Dalam waktu singkat, ia berhasil membangun jaringan kemitraan dengan 35 keluarga penenun yang kini mendapatkan tambahan pendapatan signifikan, hingga Rp5 juta per bulan.
Awalnya, Stephanie hanya mengumpulkan kain, namun ia beralih untuk mengajak penenun berinovasi dan menghasilkan karya yang menarik bagi konsumen. Nama “Tinung Rambu,” yang berarti “tenun yang dikerjakan oleh perempuan,” menjadi simbol penghormatan bagi para penenun NTT.
Stephanie juga aktif mengikuti berbagai program pemberdayaan UMKM dan baru-baru ini lolos seleksi BRILiaNpreneur 2023, yang membuka lebih banyak kesempatan untuk memasarkan produk-produknya. Dengan akses modal dari BRI, ia berencana mengembangkan galeri dan meningkatkan kapasitas produksi di kalangan para penenun.
Dari awal yang sederhana, usaha Tinung Rambu kini mencatat omzet tahunan berkisar Rp1,1 miliar hingga Rp1,5 miliar, dengan produk premium yang dijual ke pasar internasional. Dampak dari usaha ini tidak hanya dirasakan oleh Stephanie, tetapi juga membawa harapan baru bagi para mama penenun di NTT untuk kehidupan yang lebih baik.